Ayah Siao Bao dan Paku


Seorang ayah tanpa banyak bicara selalu 
berusaha memperbaiki sifat buruk anaknya 
dengan cara sederhana yang mudah 
dimengerti, dipahami maknanya. Sedikit 
berkata, namun banyak berbuat dengan hasil 
maksimal, itulah ayah yang selalu siap dengan 
sekian akal untuk mendidik anaknya menjadi manusia baik.

  Disatu desa, ada anak bernama Siao Bao, bocah laki-laki yang sebenarnya pintar tapi suka marah-marah. Perlaku Siao Bao kadang manja dan semaunya. Tentu saja orang tuanya merasa letih memikirkan perilaku Siao Bao.

 Pada kejadian saat Siao Bao sedang asyik nonton tv hingga larut malam. Mamanya memanggilnya, "Siao Bao, tidurlah, hari sudah larut malam!"

  Siao Bao berteriak dengan ketus, "Tidak mau, saya masih ingin nonton TV!"

  "Tapi besok pagi kammu tidak bisa bangun, bisa terlambat masuk sekolah."

  Bukannya menurut, Siao Bao malah menjerit-jerit, "Saya tidak mau tidur! Sana, pergilah!" Sambil menghela nafas, mamanya membahas masalah ini dengan suaminya, ayah Siao Bao.

   "Yah, Siao Bao makin suka marah-marh, apa yang seharusnya kita perbuat."

   "Ya, kita harus mencari cara agar sifatnya dapat menjadi lebih baik."

  Cuaca pagi di hari Minggu ini sunngguh cerah, Papa Siao Bao mengajaknya bermain-main di taman belakang. Dia membuatkan ayunan di pohon, tentu saja Siao Bao sangat senang.

   Sambil memangku Siao Bao duduk di ayunan, papanya bertanya, "Siao Bao, mari kita melakukan suatu permainan."

   Dengan riang Siao Bao menjawab, "Baiklah, pemainan apa papa?"

   Papanya pun menjelaskan, "Permainannya adalah setiap kamu marah, maka kita akan tancapkan satu paku di taman. Tapi bila dalam sehari, kamu bisa tidak marah, maka kita cabut satu pakku."

   "Yeah, saya paling senang permainan!" teriak Siao Bao senang.

   Berturut-turut beberapa hari kemudian, selalu terdengar suara palu dipukul. Betul, itu memang suara paku yang ditancapkan Siao Bao, sambil berhitung, "Hari ini ada 9 biji....Hari ini ada 8 biji....Hari ini ada 6 biji....Hari ini hanya ada 5 biji lho...."

   Hingga suatu hari, papa Siao Bao mengajaknya duduk di taman dan berkata, "Eh, Siao Bao, mengapa pakunya makin hari makin sedikit?"

   Siao Bao bilang, "Karena saya menemukan bahwa setiap kali menancapkan satu paku, membuatku teringat masalah saat saya marah, hati jadi merasa tidak enak, makin lama saya jadi sedih jika mau marah."

   "Oh, benarkah?" kata papanya.

  Siao Bao melanjutkan, "Ya, tetapi saat mencabut paku, saya teringat kalau seharian saya tidak marah, hati jadi senang."

   Papanya tersenyum, "Oh jadi kamu lebi senang mencabut paku?"

   "Tentu saja! Bahkan setiap kali memaku paku, saya membayangkan rupa diri saya sendiri yanng suka marah!"

   Sambil melihat ke pagar, papanya berkata, "Nampaknya paku sudah hampir habis dicabut semua."

  Siao Bao menunujuk pagar lebih dekat, "Tapi lubang bekas paku yan tertinggal di sini, sunngguh jelek dan tidak enak diliat."

 "Benar, setiap kali sedang marah, maka ucapan kita seperti paku ini, bisa meninggalkan luka da kebencian dalam hati orang lain. Meskipun kita telah berulang kali meminta maaf tetapi luka tersebut akan tetap ada."

  Papanya juga ikut mendekat, "Sebenarnya yang paling penting adalah beljar mengontrol diri kita."

  Siao Bao memeluk papanya sambil menahan tangis, "Iya papa, saya mengerti sekarang. Saya tidak akan nakal lagi."

  Mamanya dari dalam rumah melihat anak dan suaminya, berpelukan jadi terharu dan meneteskan air matanya.

  Terbukti, suaminya sukses mendidik anaknya dengan cara sederhana, mudah dimengerti dan tidak membuat sakit htai.

  cara cerdas penuh filosofi kehidupan yang tanpa terasa telah tertanam kuat di hati anaknya tanpa banyak bicara maupun teguran yang sifatnya memarahi kenakalan anaknya. Sungguh sebuah cara yanng bijaksana dan arif tanpa menggurui, namun nyata terbukti bisa mengubah siat buruk anaknya.



*************





Komentar